11 Desember 2008

Paku

. 11 Desember 2008

Suatu ketika ada seorang anak laki – laki yang pemarah. Ayahnya berusaha keras untuk membuang sifat buruk anaknya. Suatu hari ia memanggil anaknya dan memberinya sekantong paku. Paku ? Ya Paku…. !

Sang anak heran. Tapi bibir ayahnya justru tersenyum bijak. Dengan suaranya yang lembut, ia berkata kepada anaknya agar memakukan sebuah paku di pagar belakang rumah setiap kali marah. Ajaib !!!

Di hari pertama, sang anak menancapkan 48 paku ! Sungguh jumlah yang menakjubkan. Begitu juga di hari kedua, ketiga dan beberapa hari selanjutnya. Tapi hal itu tak berlangsung lama.

Setelah itu jumlah paku yang tertancap berkurang secara bertahap. Ia menemukan fakta bahwa lebih mudah menahan marahnya daripada menancapkan banyak paku di pagar rumahnya.

Akhirnya kesadaran itu membuahkan hasil. Si anak berhasil mengendalikan marahnya dan tidak cepat kehilangan kesabaran. Ia bergegas memberitahukan hal itu kepada ayahnya. Sang Ayah tersenyum. Kemudian meminta si anak agar mencabut satu paku untuk setiap hari dimana ia tidak marah.

Hari – hari berlalu dan anak laki – laki itu akhirnya berhasil mencabut semua paku yang pernah ia tancapkan. Ia bergegas melaporkan kabar gembira itu kepada ayahnya. Sang ayah bangkit dari duduknya dan menuntun si anak melihat pagar di belakang rumah.

“Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku. Tapi lihatlah lubang – lubang di pagar ini. Pagar ini tak akan bisa kembali seperti semula, tidak akan bisa sama seperti sebelumnya,” kata sang ayah bijak.

Sang Ayah sengaja memotong kalimatnya pendek – pendek agar si anak bisa mencerna maksudnya dengan baik. Si anak menatap ayahnya dengan sikap menunggu apa kelanjutan ujaran ayahnya itu.

Ketika kamu melontarkan sesuatu dalam kemarahan, kata – katamu itu meninggalkan bekas seperti lubang ini di hati orang lain. Kamu bisa saja menusukan pisau, dan mencabutnya kembali. Tetapi, tidak peduli berapa kali kamu akan minta maaf, luka itu akan tetap ada. Dan luka karena kata – kata sama buruknya dengan luka fisik, “ ucap sang ayah lembut namun sarat makna.


“Sang anak membalas tatapan lembut ayahnya dengan mata berkaca – kaca. Pelajaran yang diberikan ayahnya begitu tajam menghujam relung hatinya.


***

Sahabat, saling mema’afkan mungkin bisa mengobati banyak hal. Tapi, akan sirna maknanya saat kita mengulangi kesalahan serupa. Padahal, lubang bekas cabutan paku yang sebelumnya masih menganga. Jadi, berhati – hatilah sahabat. Semoga Allah melembutkan hati kita dan menghiasinya dengan sifat sabar tanpa tepi. Amiien.

 
Fahmi Azzam is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com