Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

20 Desember 2008

KERINDUAN

. 20 Desember 2008

Jiwa ini sedang dirundung rindu
Tuk hadirkan satu hati bersamamu
Sahabat… Mari kita bangun kembali
Segalanya di sini
Datanglah bersama iman di jiwa
Hadirmu semoga membawa cahaya
Di dalam ukhuwah kita
Yang kan kita jalin bersama… Semoga…

“Hey!!! Menyanyi saja kerjanya!.”
Hentakan Fahrul membuatku berhenti menyanyi. “Eh kamu Rul! Dari mana saja kamu? Kenapa tidak pulang tadi malam?”.
“Ah biasa, menjangkau yang tak pasti”. Ucapnya yakin.

Fahrul adalah teman satu kost ku yang super sibuk. Entah apa saja yang dikerjakannya. Sehingga membuatnya lebih sering menginap di tempat temannya.

Pagi itu ba’da sholat shubuh dan membolak-balik buku catatan ku yang sudah mulai usang.
Tanpa tersadar aku menyanyikan bait lagu al-maydani yang sangat menggambarkan kerinduanku selama ini dengan seorang teman yang selama ini banyak membantuku.
Tempatku berkeluh kesah dan canda tawa. Sebagai seorang sahabat aku takkan pernah melupakannya.

Azizah namanya. Mahasiswi semester 5 di sebuah universitas negeri di medan. Perawakannya kecil, berwajah ayu, mungkin karena rajinnya dia beribadah, Murah senyum sehingga membuat banyak lelaki di kampus yang menyukainya. Apalagi dengan lesung pipitnya yang hanya di pipi kanannya.

--o0o--

“Azzam, pulang kuliah kita ke rumahku yuk?” Ajak Zizah kepadaku. “Ada rencana apa nih di rumah?” Ku balik tanya. “Sudah pokoknya kamu ikut aku saja”. Pintanya dengan sedikit memaksa. “Baiklah kalau begitu! Tapi ntar ongkosin aku ya?”
Kalau urusan itu kamu terima beres ajalah”.

Kuliah terakhir pun usai. Kulirik jam di hp menunjukkan pukul 14 lebih 15 menit. Waktu yang menantang aku untuk makan siang. Rasanya telah terjadi unjuk rasa di dalam perutku. “Hmm dimana aku makan siang ini ya?”. Hatiku bergumam. Kurogoh kantongku, hanya ada selembar uang Rp. 10.000. Wah… cukuplah makan dengan lauk ikan ditemani teh manis dingin.

Keluar dari ruangan kuliah Azizah menghampiriku. “Gimana berangkat kita sekarang?”. Aku baru teringat kalau aku sudah janji untuk main ke rumah Zizah sepulang kuliah. “Astaghfirullah… Aku hampir lupa!”.
“Aku tahu pasti kamu belum makan kan? Kamu kan kalau belum makan pasti penyakit lupa selalu muncul”. Ledeknya kepadaku.
“Sudah ayo berangkat!” Ajaknya.

Dalam perjalanan aku masih berfikir ada apa dengan Azizah. Tidak biasanya dia mengajakku ke rumahnya selain untuk diskusi. Tetapi tadi ketika aku Tanya dia merahasiakannya. Oh… acara makan saja mungkin. Terawangan sederhana ini mungkin ada benarnya karena kalau tidak diskusi biasanya diisi dengan acara makan-makan saja.

Bermacam pikiran yang ada dalam benakku. Kulihat Zizah hanya diam. Matanya asyik berlayar melihat segala hal yang kami lalui. Sesekali terlihat melamun. Aku sendiri tidak berani mengajaknya mengobrol. Sudah menjadi kebiasaannya kalau tidak ada hal yang penting dibicarakan, Azizah lebih memilih diam. Mungkin dia sangat memahami dan mengamalkan hadist Nabi “Berkatalah yang baik atau lebih baik diam”.

Akhirnya aku sampai di rumahnya. Perjalanan yang membosankan ditambah udara yang panas membuat peluhku bercucuran. Kulihat tidak ada yang berbeda sejak terakhir kali aku ke rumahnya seminggu yang lalu. Dipersilahkannya aku masuk dan akupun duduk di kursi sofa yang cukup empuk. Adiknya sedang makan seraya Zizah mengajakku makan siang.
Selepas makan, diajaknya aku ke taman di belakang rumahnya. Suasana yang sangat nyaman kupikir. Udaranya yang sejuk. Sengatan matahari terhalang dedaunan pohon yang ditanam dan berdiri dengan kokohnya. Semilir angin sepoi-sepoi menambah ketentraman hati di siang itu.

“Azzam… Ada yang ingin kusampaikan kepadamu. Mungkin hari ini adalah waktu yang tepat bagiku untuk menyampaikan isi hatiku kepadamu”.
Jreng…Jreng… Seperti di film-film saja pikirku.
“Apa gerangan itu sahabatku?” Tanyaku seperti sedang main film.
“Azzam, kamu adalah sahabat yang paling dekat denganku selama ini. Aku sudah mempercayaimu walaupun banyak sisi burukmu yang aku dapati. Tetapi itulah hidup, harus selalu ada warna-warni”.
“Kamu ingat hari ini adalah hari ulang tahunku?” Tanyanya
“Astaghfirullah… hari ini kan tanggal 22 September. Wah sudah 21 tahun umur dirimu sekarang”.
Aku benar-benar lupa kalau sobat karibku berulang tahun hari ini. Aku malu jadinya.
“Tapi itu tidak penting Azzam. Ada hal yang lebih penting dari sebatas ulang tahun”.
Hatiku semakin berdebar akan kelanjutan omongannya. Wajahnya yang serius membuatku semakin bertanya-tanya.

“Azzam, cinta susah ditebak ya? Terkadang dia muncul dengan sendirinya, terkadang juga dia akan pergi begitu saja tanpa sebab yang pasti”.
Waduh ada apa lagi nih. Pikiranku semakin kacau tidak karuan. Apa Azizah sedang jatuh cinta? Tapi dengan siapa Ya? Setahuku dia tidak begitu deat dengan laki-laki. Atau ini hanya bahan diskusi. Ah… semuanya akan terjawab kalau Azizah menyelesaikan pembicaraannya.
“Azzam… kamu tahu siapa pria itu yang membuatku jatuh cinta?”
“Siapa?”. Tanyaku penasaran.
“Dia adalah kamu Azzam!” Ucapnya jelas.
Duarrrr!!! Seperti petir di siang bolong. Pernyataannya membuatku terkejut setengah mati. Tidak kuduga keluar dari bibirnya kata-kata cinta. Wanita yang kuanggap tertutup dengan cinta, tetapi justru aku dengar sekarang. Wah… apa maksudnya nih!!!
“Aku ingin kelak kamu tetap di sampingku. Aku ingin kamu menjadi suamiku walau tidak dalam waktu dekat ini”.
“Azzam… kamu bersedia kan?” Pertanyaannya menyadarkan aku dari lamunan.
“Aku sudah mendapat izin dari orang tuaku.”.
“Kamu ini kenapa Zizah? Mengapa kamu mengeluarkan kata-kata ini?”. Tanyaku sedikit bingung.
“Azzam… Aku serius. Semua ini karena kamu yang telah mengajarkan ku”.
Aku benar-benar tak sadar dengan hal ini. Ternyata ada benih cinta yang tersemai selama pertemanan kami. Wallahu a’alam.
“Ya udah… aku akan beri kamu waktu sampai kamu benar-benar siap dengan jawabanmu…Ok!”

--o0o--

Hari-hari selanjutnya kulalui hanya memikirkan pertanyaan Azizah. Kebingungan menggelayutiku. Bingung harus berbuat apa. Tak berani aku menghubungi Azizah. Khawatir kalau Azizah menuntut jawabanku. Aku masih berpikir. Mengapa Azizah menyampaikan hal itu kepadaku. Tampang pas-pasan, belum punya pekerjaan tetap, apalagi soal cinta, aku paling tak paham.

Akhirnya kuputuskan untuk menghubungi orang tuaku. Mereka terkejut mendengar ceritaku. Namun, mereka hanya berpesan. “Nak, walau ibu belum tahu bagaimana dia, ibu harap dia yang terbaik buat dirimu. Ibu mengizinkan kamu untuk menikah. Tapi jangan salah langkah, itu bias fatal akibatnya. Semua keputusan kami serahkan kepadamu”. Hatiku sedikit tenang mendengar nasihat mereka.

Tiga minggu berlalu, selama itu pula aku tidak melihat Azizah di kampus. Sampai aku mendengar sebuah kabar yang sangat mengejutkanku. Azizah meninggal dunia.
“Innalillahi Wa Inna ilaihi roji’un”. Hatiku luluh dan bergegas melangkahkan kaki ke rumahnya.
Bunga duka cita berjejer, bendera merah berkibar, pelayat begitu ramai mendatangi rumahnya. Ku datangi ibu dan Ayah Azizah. Kesedihan mewarnai, Air mataku jatuh. Belum sempat aku menjawab permintaannya, Azizah terlebih dahulu dipanggil Sang Khalik. Ibunya bercerita kalau sejak terakhir aku main ke rumahnya, penyakit kanker otaknya kambuh.

Oh… alangkah payahnya diriku. Mengapa aku tidak pernah menghubungi Azizah sejak aku bertemu dengannnya. Sungguh penyesalan yang takkan pernah terbayar. Azizah tidak pernah cerita kalau dia mengidap penyakit mematikan itu. Di balik keceriaanya ternyata dia menyimpan penyakit yang kronis.

“Nak, ini ada titipan dari Azizah buatmu, dia memberikannya satu jam sebelum dia menghembuskan nafasnya yang teakhir”. Kulihat ibu tangisannya semakin menjadi.
Selepas fardhu kifayah, aku pulang ke kost dengan hati mendung seperti kondisi kota Medan yang selalui diwarnai hujan. Jalanku gontai. Penyesalan yang tiada henti. Di kamar aku buka titipan dari Azizah dengan ucapan bismillah.

Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh…
Azzamku…
Laa Tahzan…
Jangan bersedih atas kepergianku karena ini sudah menjadi rahasia Allah.
Jangan bersedih karena engkau tiada berada di sampingku saat aku dipanggil Alah.
Jangan bersedih karena engkau belum sempat menjawab permintaanku.
Jangan bersedih karena aku tidak pernah cerita tentang penyakitku ini.
Jangan bersedih Azzamku…
Azzamku…
Kamu masih ingat saat kita pertama kali bertemu di depan fakultas? Saat itu kamu meminjam penaku? Dasar kamu tak bermodal. Kamu tahu sejak saat itu aku tertarik padamu. Kata-katamu yang halus dan senyumanmu membuat aku teringat selalu.
Azzzamku…
Kini aku terlebih dahulu pergi, aku harap engkau tidak berubah sedikitpun selepas kepergianku. Azzamku adalah Azzam yang pernah kukenal.
Azzamku…
Semoga kita bertemu di surga kelak… Amin.
Wassalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh…

Sahabatmu…
Azizah

Kembali menetes air mataku. Cintaku kini telah pergi. Entah sampai kapan aku menemukan sosok sepertinya lagi. “Ya… Allah terimalah dirinya di sisi Engkau yang mulia, ampunilah dosa-dosanya, perhitungkanlah segala amalan-amalannya. Ya Allah, pertemukannlah aku dengan dirinya di akhirat kelak. Amin”.
Selamat jalan cinta pertamaku….

Medan, Desember 2008

Baca Selanjutnya»»

14 Oktober 2008

Ketika "Cinta" Dikalahkan Cinta

. 14 Oktober 2008

” Ma’af Dit, aku tak bisa “. Suasana seakan tak ada kehidupan, hanya terdengar suara lembut angin yang menusuk pori-pori kulitku. Bukan karena kesunyian yang membuatku terpaku, tapi….

” Dit, anterin ke gramedia yuk ? ” suara itu telah menjemputku dari dunia lamunan.

” Eh….siang bolong gini bengong, entar kesambet loh “. Aku hanya membalas dengan senyuman. Hasan, dialah sahabat baruku yang kukenal

dikost ini yang telah membawaku pada perubahan. ” Yuk ! ” jawabku singkat.

Dalam perjalanan tak henti-hentinya Hasan menggodaku yang dari tadi hanya diam. ” Lagi mikirin apaan sih Dit ?, ngelamun mulu ntar cepet tua loh……” mata melotot dan kerut keningnya adalah ciri khas ketika sedang meledekku. ” Ga ada apa-apa ” hanya senyuman yang terakhir dari kata itu.

” ooo……ya udah klo ga mau cerita “.

Dua bulan sudah kenanganku terkubur, namun kini entah kenapa muncul kembali setelah kemarin malam memimpikan dirinya. Kesunyian malam dan dinginnya malam tak lagi kurasakan karena hangatnya sinar rembulan mulai menemaniku malam itu untuk mengingat kenangan masa lalu. Entah mengapa mata ini sulit kupejamkan, seakan-akan didepanku hadir sesosok wanita yang tak asing bagiku. Dia melambaikan tangan dan bercanda ria dengan temannya.

Dialah gadis yang telah membangunkan cintaku. Sebut saja Rani, dia adalah sahabat Tari teman kampusku. Orangnya asik, mudah beradaptasi dengan teman baru walaupun aku sendiri agak canggung dengan yang namanya perkenalan dengan wanita. Perkenalan trus berlanjut, aku mulai memberanikan diri tuk mengajak dia jalan dan terkadang dia yang memintaku untuk mengantarkannya yang hanya sekedar mencari boneka. Kecanggunganku mulai sedikit hilang ketika dia mulai bercanda denganku dan mulai meminta pendapatku tentang masalah yang dihadapinya. Entah mengapa ketika bersamanya aku seakan-akan menemukan kebahagiaan yang selama ini telah hilang dalam hidupku. Ketika senja tiba, kuingin cepat menggantikan rembulan dengan matahari jika kubisa. Hari demi hari dia tak luput dari pikiranku, walaupun dia bukan satu kampus denganku tapi dia selalu menghubungiku via telpon dan itu membuat rasa rinduku terobati.

*~*

HPku berdering dan kuraih dengan malasnya, ” siapa sih pagi-pagi gini ganggu orang yang lagi enak bermimpi ” gumamku.

” Halo, Dit ” suara itu tak asing lagi ditelingaku.

” Ya halo, ada apa Ran ? ” kontan semangat dipagi itu timbul seketika mengalahkan sisa kantukku.

” Dit hari ini ada acara ga ? “

” mmm… kebetulan minggu ini ga ada acara, emang kenapa ? “

” Anterin aku jalan yuk ! ” suara manjanya mulai muncul. Aku tersipu mendengar kata-kata itu dan tanpa pikir panjang kuterima ajakannya.

” Ayuk…yuk…, emang mo kemana ? “

” Semangat banget sih, anterin aku cari kado buat keponakanku trus anterin kerumahnya, mau ga ? “

” Boleh…buat kamu apa sih yang ga bisa ” entah dari mana aku belajar bergombal terhadap wanita, padahal aku tipe cowo yang sulit berkomunikasi

dengan wanita.

” Ya udah nanti jam 09.00 jemput aku dirumah yah ! daaa… ” tut…tut…tut…

Huuuu……. kurebahkan kembali badan ini dengan kegembiraan hati yang terpancar dipagi hari. Tak biasanya aku menyapa sang surya yang menebarkan

kehangatan sinarnya yang memberikan manfaat bagi tubuh manusia. Kegembiraan itu tak akan pernah kuhapus dalam memori kehidupanku.

*~*

Minggu itu aku menjemputnya sesuai permintaan dan aku mengantarkan mencari hadiah untuk keponakannya. Hampir semua toko mainan kami jelajahi dimall itu, tapi tak satupun mainan yang cocok untuk kami beli. Hampir kami putus asa, tapi keputusasaan itu hilang setelah kami melihat sebuah kotak yang berisi boneka yang paling disukai keponakannya. Tanpa ragu kami langsung menuju toko tersebut dan membelinya. Rasa capek, kantuk dan lelah telah menjadi satu, tapi perasaan itu entah mengapa terasa tak begitu pengaruh pada diriku. Sebelum pergi kerumah keponakannya, kami sempatkan untuk beristirahat dicafe dekat kami membeli boneka.

” Akhirnya setelah sekian lama kita mencari …….. fhuuuhhhh ! “

” Sok puitis deh ! ” ledeknya sambil tersenyum kecil.

” Eh Ran mau makan apa ? “

” mmm …. aku ga makan deh ” jawabnya singkat, mungkin rasa lelah telah menbuatnya kurang berselera makan.

” Ya udah klo gitu aku pesen minuman aja yah ? “

” Ok ! “

Sambil minum kami cerita dan saat itu entah mengapa hati ini mendapat dorongan untuk mengatakan sesuatu padanya.

” mmm……Ran, aku boleh mengatakan sesuatu ga ? tapi …. kamu janji jangan marah yah ? ” rasa ragu mulai menyelimuti hatiku, tapi daya dorong ini semakin kuat.

” Tergantung ” senyuman dibibirnya membuatku terpaku memandangnya. ” Bicara aja lagi Dit, aku ga marah asal jangan bilang kalau kamu ga bisa anterin aku kerumah keponakanku, soalnya dari sini kan lumayan jauh dan aku udah capek “

” Bukan …. bukan itu, aku pasti anterin kamu kok ! “

” Trus apa dong ? jangan bikin Rani bingung deh “

” mmm …… Ran mungkin aku konyol mengutarakan perasaan disaat seperti ini, tapi aku tidak bisa membendungnya lagi ” ku beranikan tuk memulainya.

” maksudnya ? ” kerut keningnya dan tatapan tajam tak luput dari penglihatanku.

” Ran ….. a … aku mulai suka sama kamu ” ku gigit bibir bawahku dan kutundukan pandangan. Tak berani kutatap wajahnya, aku takut melihat ekspresi

wajahnya setelah aku mengatakan hal itu.

Lama tak terjadi kontak bicara diantara kami. Tapi tak lama kemudian …..

” Dit, aku ngerti perasaan kamu, aku jadi merasa bersalah terlalu berlebihan dalam bergaul denganmu sehingga kamu berpikir bahwa selama ini penerimaan ajakanmu dan permintaan untuk mengantarku adalah atas dasar rasa suka padamu. Aku menganggap kamu sebagai sahabatku yang baik yang telah lama kucari selama ini. Kamu mau mendengarkan keluhanku dan menasehatiku. Jadi tak mungkin aku menerimamu sebagai pacarku, aku tak mau kehilanganmu Dit, sebab didalam pacaran ketika rasa cinta telah pudar maka kebencianlah yang berperan dan hal itu tak mau terjadi pada hubungan kita Dit. Jadi aku mohon padamu jadilah sahabatku bukan pacarku. Ma’afkan aku Dit, kamu bisa ngertikan perasaanku ? ” penjelasan itu diakhiri dengan senyuman manisnya. Kuberanikan menatap wajahnya walaupun jeritan dan tangisan hati silih berganti. Kubalas senyumannya dan kuberanikan mengomentari.

” Ya sudah kalau itu memang pendapatmu, aku kan coba tuk nerimanya ” kupaksakan bibir ini untuk senyum.

” Eh Ran udah sore nih, ntar kemaleman lagi kerumah ponakanmu ” cepat kuganti pokok pembicaraan agar rasa sedih ini tak berlarut.

” Kamu ga marah kan Dit ? ” dia menarik lenganku yang sudah siap berdiri. Kuanggukan kepalaku dengan senyuman yang berat dibibir.

Dalam perjalanan kerumah keponakannya hingga kembali kerumahnya tak satu katapun aktif keluar dalam bentuk pertanyaan ataupun canda. Hanya sedikit komentar dari setiap kata-kata yang dia berikan.

*~*

Kuayunkan langkahku menuju pintu kamar kostku. Berat, bukan berarti karena aku lelah atau rasa kantukku, tapi setelah kejadian siang tadi kebahagianku

sedikit mulai hilang. Kulihat sebelah kamarku ada kehidupan diwarnai terangnya lampu. ” Ada pendatang baru ” gumamku tapi tak kupedulikan.

” Assalamu ‘alaikum ” seketika aku berbalik dengan rasa kaget karena aku sedang mencari kunci kamarku diselingi dengan bayangan-banyangan kejadian siang tadi.

” Ya….Waalaikum salam “

” Ma’af kalau saya mengagetkan kamu, saya Hasan orang baru disini, salam kenal ma’af nama kamu siapa ? “

” nama saya Adit, ma’af yah saya capek jadi nanti aja perkenalannya “

” Ma’af kalau saya menganggu ” Senyuman dibibirnya menggambarkan ketulusan hati.

Tanpa ragu ku buka pintu dan segera kututup. Ada sedikit perasaan tak enak pada Hasan karena pembicaraanku tadi yang kurasakan kurang enak didengar, tapi aku membuang perasaan bersalah tersebut. Malam semakin larut tapi kedua bola mataku tak kunjung juga mengantarku pada alam sana. Terdengar suara kehidupan dalam kamar Hasan. Dengan penuh penasaran kuberanikan mengetuk pintu kamarnya sekalian aku mau minta ma’af.

” Ada apa Dit ? ” senyuman itu begitu sejuk dipandang.

” mmm… ga, kamu belum tidur San ? “

” Belum, aku tidak bisa tidur malam ini, entah mengapa mungkin karena aku masih baru kali yah dengan suasana baruku ini “

” ooo….” jawabku singkat

” Ngomong-ngomong ada apa nih Dit ? emangnya kamu juga ga bisa tidur ? “

” Aku mau minta ma’af karena jawaban perkenalan tadi tidak mengenakan “

” Ga apa-apa Dit, aku ngerti kok kamu kan tadi baru datang pasti rasa lelahmu yang membuat kamu bersikap demikian “

” Wah nih orang sabar banget, kebijakan dalam berkata bikin kagum setiap orang yang mendengarkan ” gumamku dalam hati.

Akhirnya aku ngobrol malam itu mulai dari perkenalan sampai dengan pengalaman.

Setelah kejadian malam itu aku semakin dekat dengan Hasan. Tak jarang aku minta pendapat tentang masalah yang sedang kuhadapi. Setiap katanya mengandung makna yang begitu indah bagaikan penyair yang menyampaikan risalah lewat kata-kata bijaknya.

” Dit, rasa cinta itu fitrah. Setiap manusia yang normal pasti akan merasakannya, tapi tergantung kita dalam pengembangan cinta tersebut. Cinta kita kepada lawan jenis atau hobby kita boleh-boleh saja, tapi jangan sampai rasa cinta tersebut mengalahkan cinta kita padaNya “

” Sulit San, hati ini sudah terlanjur suka sama dia. Sekarang alur hidupku saja entah kan kubawa kemana, semuanya serba kebingungan dan saat kuambil keputusan selalu saja kutemui jalan buntu “

” Dit, cinta itu tak harus memiliki dan cinta tak bisa dipaksakan. Jika kita memang mencintai seseorang, kita kan merasa bahagia jika dia menemukan kebahagiannya, walaupun kebahagian itu tidak ditemukan pada diri kita, kita harus ikhlas. Dit, sekarang mengadulah kepada Allah. Mohon petunjukNya untuk membimbing kebimbangan dalam menjalani hidupmu dan jangan terlalu dipikirkan sebab kamu tau sendiri kan bahwa kamu punya penyakit kanker ” Hasan memang benar penyakit yang kuderita selama ini tak lagi kupikirkan. Padahal entah esok atau lusa bahkan mungkin hari ini jika Allah berkenan mengambil nyawa ini, aku tidak bisa berbuat apa-apa.

Kuingat pesan Hasan yang masih terngiang dalam benakku ” Sesungguhnya setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian, jadikanlah ini salah satu prinsip dalam menjalani hidup agar selalu ingat padaNya “. Bergetar seketika seluruh tubuhku entah apa yang terjadi padaku saat itu. Tanpa pikir panjang ku basuh setiap bagian tubuhku dengan air wudhu untuk mengadukan masalah ini pada Penguasa alam semesta.

” Ya Allah, betapa besar dosaku selama ini. Cinta yang kau berikan telah aku salah artikan. Begitu halusnya iblis membisikan arti cinta itu hingga kabut cinta duniawi telah menghalangi arti sebenarnya cinta. Ya Allah, andaikan cintaku padaMu sebesar cintaku padanya bahkan lebih dari itu. Sungguh aku sangat menginginkan hal itu sebelum Kau memanggilku. Ya Allah jadikan cintaku padaMu begitu besar hingga ku tak takut akan kematian bahkan kematian menjadikan gerbang menuju kerinduan menghadapMu ” tak terasa air mata penyesalan telah membasahi pipi dan sajadah. Hatiku sedikit lebih sejuk dan tenang dan tak terasa keseimbangan tubuhku mulai tak stabil dan akhirnya aku tersungkur dalam sujud.

*~*

Fahmi Azzam...
September - Oktober 2008

Baca Selanjutnya»»
 
Fahmi Azzam is proudly powered by Blogger.com | Template by o-om.com